Aksi pemuda Indonesia, meminimalisir terjadinya krisis iklim?

HMPSTEKLING—Ancaman kerusakan akibat krisis iklim, meningkatnya perpecahan sosial
dan risiko atau kejahatan yang berhubungan dengan internet (siber) menjadi tiga risiko utama
yang paling dikhawatirkan oleh masyarakat dunia di 2022. Temuan ini disampaikan dalam
laporan Global Risks Report 2022 yang diterbitkan Global Risks Initiative hari di Jenewa,
Swiss.
Forum Ekonomi Dunia (WEF) mencatat risiko kerusakan iklim menjadi ancaman utama
global di saat dunia memasuki tahun ketiga pandemi Covid-19.
Menurut Laporan Risiko Global 2022 WEF, risiko jangka panjang yang utama saat ini adalah
terkait dengan iklim. Sementara itu, kekhawatiran global jangka pendek paling utama
mencakup kesenjangan sosial, krisis mata pencaharian, dan penurunan kesehatan mental.
Peter Giger, Group Chief Risk Officer di Zurich Insurance Group mengatakan krisis iklim
tetap menjadi ancaman jangka panjang terbesar yang dihadapi umat manusia. Ia juga
mengatakan bahwa kegagalan untuk bertindak atas perubahan iklim dapat mengurangi
produk domestik bruto (PDB).
Kemudian dalam benak kita semua, pasti terlintas sebuah pertanyaan umum tentang
bagaimana sih, cara manusia dari semua golongan (terlebih lagi golongan anak muda),
membantu meminimalisir terjadinya krisis iklim?
Apakah suatu aksi baik akan berpengaruh terhadap perubahan iklim yang mencakup kawasan
yang tidak bisa dibilang sempit?
Generasi muda dapat menjadi aktor dan berperan aktif memberikan kontribusi positif dalam
menekan Gas Rumah Kaca (GRK). Melalui keterlibatan aktif pada agenda-agenda
pengendalian perubahan iklim, seperti transisi energi dengan mendorong penggunaan sumber
energi yang terbarukan dan ramah lingkungan, membatasi penggunaan kendaraan berbahan
bakar fosil, dan melakukan penanaman pohon dalam skala besar, mereka menjadi salah satu
penentu keberhasilan mencegah kenaikan suhu bumi tidak lebih dari 1,5 derajat Celcius.
Indonesia mempunyai modal alam yang sangat luar biasa (natural capital super power).
Terlebih dalam konteks Carbon and Climate. Dua sektor utama yang didorong untuk
menurunkan emisi GRK Indonesia adalah sektor FoLU dan sektor Energi. Terdapat
enam aksi mitigasi utama di sektor FoLU. Keenam upaya mitigasi tersebut,
yaitu kegiatan pengurangan laju deforestasi dan degradasi hutan atau REDD+, terutama
pengendalian kebakaran hutan dan lahan; rehabilitasi hutan terutama mangrove;
pengelolaan lahan gambut, dan mangrove; pengelolaan hutan lestari dan mempertahankan tutupan hutan primer; pembangunan hutan tanaman industri; serta
peningkatan peran konservasi keanekaragaman hayati.
Untuk itu keberadaan generasi muda yang peduli pada pengendalian perubahan iklim
lewat aksi-aksi iklim dan energi bersih, perlu didorong. Generasi muda memiliki ciri
berani mengemukakan pendapat, memliki kemampuan menyerap nilai dan gagasan
baru, inovatif, kreatif, memiliki Ide dan gagasan baru yang menarik,
mobilitas yang tinggi dan dinamis,
kesetiakawanan dan kepedulian sosial tinggi, peduli dan tanggap akan kejadian di
sekitarnya, serta memiliki
kemurnian idealisme, positive thinking, dan mandiri, juga suka berbagi pengetahuan
akan sangat mudah untuk menggeliatkan agenda-agenda pengendalian perubahan iklim
di dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Mengompos ala HMPS-TLMengompos ala HMPS-TL

Sabtu (18/06/2022), HMPS Teknik Lingkungan melakukan kegiatan membuat kompos sebagai aksi nyata seluruh anggota dalam berpartisipasi mengurangi limbah organik dan memanfaatkannya sebagai pupuk biomassa. Kompos merupakan salah satu jenis pupuk